Semalam di Bangkalan

Bangkalan, jika kita mendengar kata Bangkalan, yang kita pikirkan adalah Madura. Ya, benar sekali. Bangkalan adalah salah satu kota yang berada di pulau Madura. Tepatnya diujung barat pulau Madura, kota yang akan kita lewati pertama kali, jika melewati jembatan Suramadu. Kota yang menyimpan berjuta rahasia didalamnya.

bangkalan2

Menikmati malam yang berbeda dari biasanya. Sesekali aku ingin menghirup udara malam kota ini. Alhasil keinginan itu tercapai. Kembali lagi ke bulan April kemarin, tepatnya pada hari dimana anak komunias yang ada di Bangkalan mengadakan acara Kartini. Ah, itu lama sekali, aku saja yang baru sempat posting. Hehehe

Acara yang seru, hanya ada satu tahun sekali. Aku bersama dengan teman wanitaku, menghadiri acara kartinian yang diadakan di Bangkalan. Setelah acara selesai, rencana untuk kembali ke Pamekasan kami gagalkan. Temanku masih betah di Bangkalan, sepertinya aku juga begitu, hehehe. Akhirnya, setelah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang akan kami lakukan. Keputusan diambil untuk bermalam di Bangkalan.

Yang bertugas mencari tempat untuk kami bertiga adalah temanku, yang kebetulan adik tingkat sih. Percakapan lewat telphone pun terjadi.

Z : Bak Da, saya mau ke kosanmu.

BD : Iya, ada dimana kamu?.

Z : Masih makan bak, tapi saya bareng teman.

BD : Ya, nanti kamu mau dijemput kemana ?.

Z : STKIP Bangkalan saja bak.

BD : Ok, nanti telphon kalau sudah sampai.

BD : Ya bak.

Percakapan pun, berhenti sampai disitu. Kami bertiga diantar ketempat tujuan kami, oleh salah satu senior di komunitas. Anggep saja namanya Mas Eko, sih kan namanya memang mas eko, hahaha. Sampailah di STKIP. Tetaapi tempat itu memang tak ada wajah yang temanku kenal. Benar-benar asing. Clingak-clinguk kayak maling mencari mangsa. Sepertinya waktu itu, aku tak mendengar suara apa pun, sepi sekali. Yang bisa ku dengar, hanya detak jantung yang dag dik dug.

Beberapa menit kemudian, sebuah senyuman yang menyapa temanku akhirya datang. Suasana sepi telah berubah. Aku bisa mendengar keramaian kendaraan, yang berlalu lalang di jalan raya. Bahkan bisikan angin yang menggodaku kembali aku rasakan. Berhubung yang menjemput satu orang, jadi cabe-cabean deh kami, hehehe.

Akhirnya kami sampai, bukan kami sih. Aku dan salah satu temanku, sampai ditempat. Temanku yang satu lagi, aku tinggalin di jalan raya. Tapi, pastinya dijemput donk dan dibawa ke tempat. Ok, complete. Kita bertiga sudah berkumpul lagi, istirahat sambil ngobrol khas wanita yaitu curhat.

Jadi, kita berencana untuk jalan-jalan di Bangkalan. Rencana sudah beres, akhirnya kami siap-siap untuk berangkat. Sampailah kami di stadion Bangkalan, sebenarnya ke stadion Cuma mau bantu Mbak Da jualan, sekaligus main-main disana.

Berhubung ada bunyi-bunyi aneh diperut, jadi makan dulu. Melihat warung makan lesehan yang berada di stadion, aku teringat kota kelahiranku. Masih tak banyak orang yang datang waktu itu, kursi-kursi lesehan itu masih kosong tak ada penghuninya. Lampu yang tak terlalu terang, juga menambah suasana santai waktu itu. Aku melihat deretan menu yang terpampang di dinding tempat penjual itu berada.

bangkalan3

Menu yang satu persatu aku bacakan dan aku tawarkan ketemanku, malah aku yang ditanya balik. Berhubung daftar menunya tak berteman denganku, aku hanya bisa makan dengan lauk tempe dan tahu, selain menu itu adalah musuh. Akhirnya mereka mengikuti menu yang aku pilih.

Menunggu itu tak menyenangkan menurutku, tapi kali ini cukup menyenangkan. Saat menunggu pesanan datang, kami isi waktu menunggu itu dengan mengabadikan moment saat itu, sepertinya foto-foto adalah kegiatan yang tepat untuk menunggu pesanan datang.

Akhirnya pesanan pun datang. Kami makan tanpa bicara, suasananya jadi berubah sepi. Hanya suara gigi mencabik-cabik makanan saja yang terdengar. Walaupun rasa tempe itu selalu sama, tapi kali ini berbeda untukku.

Tempenya itu lebih tebal, dari yang biasanya aku beli pas males masak. Yang aku suka adalah sambal yang ada rasa manis dan tak terlalu pedas itu membuatku mau mencicipi sambal kali ini. Berhubung ku gak terlalu suka pedas, jadi kalau pedas aku gak nyentuh sambel sama sekali. Untungnya gak pedas dan juga ada rasa manis-manisnya, jadi aku mau nyicipi walau gak banyak.

Akhirnya makan pun selesai. Kembalilah kami ke tempat jualan, untuk membantu Mbak Da jualan. Jadi kami membantu jualan kentang ulur. Tempatnya di bagian selatan stadion, waktu itu banyak yang beli, jadi hanya jualan yang bisa kami lakukan.

Pembeli semakin berkurang waktu itu, kami disuruh untuk istirahat. Ah, sepertinya mataku sudah 50% menyala, sepertinya bukan Cuma aku. Temanku juga begitu, akhirnya kami banyak bercanda, untuk mengusir kegelisahan mata. Karena tidak berhasil, kami pun di ajak untuk mengelilingi stadion, dan berhenti di sebuah permainan mobil-mobilan.

Berhubung penasaran semua, jadi kami bertekat untuk main. Sebelum berangkat, kami bertanya bagaimana caranya. Dalam perjalanan mengendarai mobil mainan ini, kami gak berhenti untuk ketawa, karena gak tahu bagaimana caranya. Untuk putar balik ataupun yang lainnya. Alhasil waktunya habis begitu saja.

bangkalan

Selesai bermain, kualitas mata menyala 80%. Jadi kembalilah kami ketempat semula, yaitu jualan kentang ulir, hehehe. Sepertinya semakin larut saja malam itu, di trotoar sudah banyak para pemuda dan pemudi yang asik bercengkrama dan bercanda. Maklum malam minggu, jadi yang punyak cememew juga nongkrong disitu.

Jam dilayar ponselku sudah menunjukkan jam 22:00 WIB. Sepertinya Mbak Da akan bersiap untuk pulang ke kosan dan tebakanku benar. Setelah beres-beres peralatan jualan, kami pulang ke kosan. Akhirnya semalam di Bangkalan berakhir juga. Tak lupa, sebelum aku memejamkan mata. Sholat isya’ terlebih dahulu, baru meneruskan mimpi yang tertunda.

Semalam di Bangkalan, membuatku sadar. Bahwa wanita itu memang harus memiliki keterampilan dan mandiri dari sekarang. Tiadak boleh gengsi dengan apa yang kita lakukakan, sesederhana apapun pekerjaan itu harus kita syukuri. Aku berterimakasi kepada teman baruku yang memberikan inspirasi kehidupan. Wanita yang tak hanya cantik tapi juga mandiri.

bangkalan1

Mendapatkan teman baru membuatku selalu ingin menjelajah dunia dan menuliskan sejarahku di semua tempat yang aku kunjungi. Jadi, setiap apapun yang kita dapatkan, harus kita syukuri, baik itu pasangan, pekerjaan atau kehidupan yang akan kita jalani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *